Firm Foundation Mendapat Penghargaan dari Design Corps

Firm Foundation meraih penghargaan “2013 SEED Award for Exellence in Public Interest Design” yang diberikan oleh Design Corps setiap tahunnya.

Penghargaan ini diberikan untuk “karya desain yang berdampak sosial, ekonomi, dan lingkungan serta menampilkan upaya penciptaan proyek berkelanjutan dan perubahan positif pada dunia.” Anda bisa melihat lebih lanjut di pengumuman SEED Award tahun ini di Design Corps.

Juga terus pantau perkembangan Firm Foundation melalui “video dispatches” dalam website Firm Foundation.

Leave a comment

Kabar dari “Firm Foundation”

Oleh Michael Haggerty

Kita kembali dengan kabar baru dari “Firm Foundation” di Banjarmasin.

Kali ini kita mengabarkan tentang proses desain partisipatif di Sungai Jingah. Kami berbagi dan berdiskusi dengan warga Sungai Jingah dalam mendesain ruang publik dan juga titian kayu di sana.

Terus lihat kerja-kerja kami…Anda juga bisa melihat berita kami lewat laporan di AECOM UrbanSOS. Senin depan, kami akan meluncurkan website yang menampilkan desain dan laporan penuh dari Banjarmasin.

Banjarmasin Video Dispatch # 2 from MHaggerty11 on Vimeo.

Leave a comment

Peluncuran “Firm Foundation” di AECOM.com

Oleh Michael Haggerty

Bulan ini Solo Kota Kita melakukan inisiatif baru di Banjarmasin.

Kami bekerja dengan AECOM UrbanSOS program untuk mendesain dan membangun “Firm Foundation” –
gagasan konsep tentang perbaikan ruang publik dan pengurangan kerentanan lingkungan
yang dibuat oleh relawan-relawan kami yang luar biasa.

Tim kami akan mengirim laporan tiap bulannya dari Banjarmasin tentang proyek tersebut.

Untuk laporan kedua, kami membuat video tentang aktivitas kami “Firm Foundation Cast.”

Banjarmasin Video Dispatch 1 from MHaggerty11 on Vimeo.

Bisa juga anda akses di website AECOM.

Leave a comment

Laporan Open Knowledge Foundation tentang SKK

Oleh Michael Haggerty

Solo Kota Kita bukan satu-satunya yang tertarik dalam ranah partisipasi, penganggaran, desain, dan komunikasi. Seperti yang ditulis dalam laporan Open Knowledge Foundation yang juga menampilkan proyek-proyek lain dari seluruh dunia yang memanfaatkan teknologi untuk mempromosikan akuntabilitas dan partisipasi warga dalam pemerintahan. Anda bisa download laporan – “Technology for Transparent and Accountable Public Finance” – di alamat openspending.org.

Terimakasih untuk Lucy Chambers untuk reportasenya!

Leave a comment

Lagi, SKK tampil di Polis + Kickstarter

Oleh Michael Haggerty

Polis kembali memuat aktivitas SKK dalam salah satu halamannya. Kali ini tentang aktivitas SKK di Banjarmasin. Artikel tersebut memuat kemenangan tim SKK dalam kompetisi UrbanSOS, dengan judul “Firm Foundation” hasil karya Alice Shay, Stephen Kennedy, Bima Pratama P, dan Addina Amalia.

Saat ini, Bima Pratama sedang melakukan riset mendalam di Banjarmasin untuk menyiapkan bahan bagi proyek desain partisipatif yang akan kami lakukan tahun ini. Sementara yang lain melakukan kampanye melalui “kickstarter”. Silahkan lihat materi kampanye kami dalam Kickstarter bagi anda yang belum sempat melihatnya!!

Sekali lagi, terimakasih Polis!

Leave a comment

SKK tampil di Polis

Oleh Michael Haggerty

Polis, salah satu blog terkemuka tentang Urban Design dan Pembangunan Perkotaan memuat tentang “desentralisasi di Indonesia dan aktivitas Solo Kota Kita”. Terima kasih Polis!!

1 Comment

SKK tampil di CoLab Radio

Oleh Michael Haggerty

Barangkali anda belum sempat melihat, voluntir kami, Stephen Kennedy dari MIT Urban Planning membuat tulisan menarik tentang pengalamannya di Indonesia di CoLab Radio.

Dia menulis tentang perjalanannya, air dan kekumuhan, dan kerajinan skala rumah tangga.

Banyak video menarik yang bisa anda lihat! terimakasih Stephen untuk tulisannya.

1 Comment

Sampai ke Ujung Sungai

Oleh Bima Pratama

Solo adalah sebuah kota yang dialri oleh 4 sungai utama ; Bengawan Solo, Kali Anyar, Kali Pepe dan Kali Jenes. Sungai-sungai yang mengalir di kota Solo mempunyai sejarah yang panjang dan kontribusi yang besar terhadap kota, sejak zaman colonial hingga saat ini. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan kota Solo, sungai – sungai tersebut turut mengalami perubahan, baik secara fisik, social serta fungsi sungai dan lingkungan sekitarnya.

Perkembangan Kota dari waktu ke waktu dan juga pertumbuhan populasi penduduk, memberikan banyak pengaruh terhadap sungai dan lingkungan sekitarnya. pembangunan yang terus terjadi membuat ruang-ruang pada kota semakin padat, kebutuhan untuk bertahan hidup ditengah tekanan tersebut seperti menekan warga kota hingga ‘keujung batas’. Pemukiman baru berkembang tidak terkendali hampir di sepanjang sungai, sehingga sedikit demi sedikit sungai mulai mengalami kehilangan fungsi dan penurunan kualitas lingkungannya. Letak dan kondisi sungai berpengaruh juga terhadap pemukiman disekitarnya, perbedaan itu dapat terlihat di setiap sungai yang mengalir di Kota Solo.

1 Comment

Sepeda Bagus dan Jalan Bebas Kendaraan

Oleh Michael Haggerty

Kita baru menyadari ternyata banyak sekali sepeda di jalan-jalan Kota Solo.

Mungkin ini musim yang cocok untuk bersepeda_ musim kemarau memang memudahkan orang untuk bersantai di luar rumah. Dan tahun ini, cuaca di Jawa Tengah sangatlah bersahabat. Bahkan mungkin tidak terlalu berdebu seperti biasanya.

Hari ini pula merupakan peringatan setahun “Solo Car Free Day“. Tahun lalu, untuk pertamakalinya pemerintah menutup Jalan Slamet Riyadi yang merupakan koridor ekonomi utama. Setiap Minggu nya jalan ini ditutup dari jam 5.00 pagi hingga 9.00 dan bebas dari kendaraan bermotor. Agenda ini semakin populer dan disukai warga sehingga warga yang tidak punya sepeda sendiri pun, rela hanya sekedar membonceng temannya.

Good Bikes and Free Streets from Michael Haggerty on Vimeo.

Jadi, sangat mungkin Car Free Day telah mendorong banyak orang untuk turut bersepeda dan menggunakan sepeda untuk bekerja, bersekolah dan pergi belanja. Hal ini merupakan pertanda baik_ jika jalan bisa mengakomodir pengguna sepeda, maka di masa mendatang jalan juga bisa nyaman bagi pejlan kaki!

Leave a comment

Pekalongan Lautan Warna

Oleh John Taylor

Pekalongan merupakan kota lautan warna, kain warna-warni berjajar dikeringkan di bawah sinar matahari; kuning, ungu, merah, oranye dan biru. Bangunan juga dicat dengan warna terang, bahkan gerbang pun mempunyai warna yang mencolok. Sepertinya kombinasi antara budaya pesisir, warga yang berjiwa seni dan juga motif batik yang berani membuat Kota Pekalongan tergolong kota yang mempunyai kebanggaan atas warna-warna yang berani atau mencolok. Seperti yang kami alami ketika Tim Solo Kota Kita berkunjung ke Pekalongan, kota ini benar-benar merupakan kota lautan warna.

Tim Solo Kota Kita berada di Pekalongan selama sepekan untuk melakukan survey dan juga mengumpulkan informasi tentang proyek-proyek pembangungan di Kota Pekalongan. Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja CDS bersama dengan UN Habitat. Kami akan menyiapkan profil kota ini bersama dengan dua kota lain yaitu Banjarmasin dan Surakarta.

Selama di Pekalongan kami mengunjungi Kampung Batik, pemukiman di sepanjang pantai, pelabuhan tua dan juga pemukiman kelompok menengah. Hal ini dimaksudkan untuk memahami bentuk kota dan juga potensi pembangunan kota ke depan.

Pekalongan punya aset yang kuat untuk berkembang, namun juga menghadapi banyak tantangan ke depan. Kota ini terkenal dengan Kota Batik, ratusan produsen batik skala kecil mampu memproduksi batik dalam skala besar. Buktinya dapat dilihat di seluruh penjuru kota, pembuatan dan pengeringan batik di mana-mana! Kota Pekalongan mendukung perkembangan batik dengan mendorong inovasi desain dan pemasaran seperti membangun museum batik, pelatihan, dan laboratorium pengembangan batik. Kota ini juga mempromosikan batik sebagai aset wisata budaya seperti terlihat di Kauman, tepat di jantung kota ini.

Di sisi lain, tantangan perubahan iklim dan problem degradasi lingkungan seperti rob membuat kita ini menghadapi tantangan yang sulit. Setiap hari di belahan utara kota, air pasang membuat sungai-sungai tidak mengalir. Hal ini menyebabkan air tumbah ke pemukiman, seperti yang terjadi di Pabean. Air pasang yang tinggi juga membanjiri daerah pantai pesisir dan air asin merusak pertanian padi di sekitarnya. Hal ini juga menyebabkan menurunnya jumlah produksi batik, karena berkurangnya tempat menjemur akibat banjir rob. Pemerintah kota sedang mengupayakan berbagai proyek seperti tembok penghalang rob, restorasi kawasan mangrove, dan juga memperbaiki system drainase untuk mengurangi resiko luapan air pasang.

Kota dengan warna mencolok ini memproduksi limbah batik yang mengalir ke sungai yang membuat aliran sungai menjadi pekat dengan tingkat polusi tinggi. Warna dan kondisi sungai bisa menjadi indicator menarik untuk mengukur keberhasilan kota ini. Dapatkah Pekalongan ke depan menyeimbangkan pembangunan industri batik dengan keberlangsungan lingkungan dan kesehatan masyarakat? Dapatkah upaya melindungi kawasan pantai dan memperbaiki sistem aliran sungai secara bersamaan memberi manfaat bagi perkembangan usaha lokal? Jika ya, maka sungai di Pekalongan suatu saat akan mengalir bersih, yang merefleksikan warna cerah atas keberhasilan Kota Pekalongan.

Leave a comment