Klothok, Rumah, Toilet dan Sampah di Banjarmasin

Oleh Michael Haggerty

Minggu ini tim Solo Kota Kita berkunjung ke Banjarmasin – ibukota Kalimantan Selatan. “Kota Seribu Sungai” ini selama beberapa decade tealah menjadi pusat transportasi regional untuk pengangkutan batubara, kayu, dan karet yang banyak terdapat di Pulau Kalimantan. Namun sumberdaya itu kian menipis dan pemerintah mulai berfikir untuk membangun kota dengan kekuatan perdagangan dan jasa.

Kami berada disini karena Banjarmasin menjadi salah satu kota dari program CDS UN Habitat_yang lainnya adalah Solo dan Pekalongan. Selama beberapa hari ini kami telah bertemu dengan BAPPEDA dan mencoba belajar tentang visi kota ini. Meskipun hari ini merupakan hari libur nasional, beberapa staf pemerintah termasuk kepala Bappeda mengantar kami berkunjung ke beberapa proyek strategis kota.

Proyek pertama yang kami kunjungi adalah fasilitas IPAL – Instalasi Pengelolaan Air Limbah –, Kota Banjarmasin berencana membangun 14 IPAL untuk mengelola limbah cair. Karena banyak wilayah di Banjarmasin tidak mempunyai saluran sanitasi, maka pemerintah memfasilitasi pembuatan septic tank di rumah-rumah untuk selanjutnya bisa dikumpulkan oleh pengelola IPAL secara regular. IPAL akan memproses limbah sehingga layak dibuang ke sungai atau dipakai untuk keperluan kolam ikan – aqua culture. Satu instalasi IPAL bisa melayani satu komplek pemukiman.

Proyek selanjutnya adalah rumah susun sewa (RUSUNAWA). Sekitar 1000 orang akan tinggal di rusun lima lantai ini yang merupakan bangunan perumahan tertinggi di Kota Banjarmasin. Aktivitas ekonomi tidak diperkenankan di pemukiman ini, namun nampak sekali banyak jemuran berjejer di beranda memenuhi wajah rusun.

Kami juga berkunjung ke Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang sudah beroperasi sejak tahun 1999, dan akan beralih fungsi menjadi TPA sementara setelah terbangunnya TPA regional. Banyak terdapat pemungut sampah mencapai sekitar 200 orang tiap hari. Tak jauh dari lokasi terdapat lokasi pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Sampah organic dari pasar dibawa ke sini untuk dibuat kompos dan dipakai sebagai penyubur di lahan-lahan taman kota. Banjarmasin sendiri diproyeksikan akan mengalami peningkatan populasi dari 700.000 mencapai 1,400,000 pada 25 tahun ke depan. Sehingga kapasitas pengelolaan sampah akan meningkat. Kampanye pada penduduk untuk mengelola sampak dan mengurangi limbah keluarga sedang digalakkan.

Pemberhentian kami terakhir ada di pelabuhan baru yang dibangun di seberang selatan komplek perdagangan bersejarah. Dermaga kapal dibangun untuk menyediakan fasilitas yang lebih baik bagi kapal pengangkut kebutuhan sehari-hari kota. Banjarmasin juga memiliki pelabuhan besar, yang melayani bongkar muat peti kemas untuk perdagangan skala regional, nasional dan internasional. Namun dermaga kelas menengah yang baru ini belum berfungsi maksimal, nampak sempi dan infrastruktur belum sepenuhnya lengkap. Mungkin karena kami berkunjung siang hari, sedang aktivitas berlangsung di pagi hari.

Kota Banjarmasin sedang mengembangkan banyak ide untuk merespon perkembangan kebutuhan perumahan, infrastruktur dan sanitasi. Tujuan proyek kami dengan UN Habitat adalah untuk membuat jaringan atau penghubung antara kota seperti Banjarmasin dengan pemerintah pusat dalam upaya mencari dukungan terhadap investasi perkotaan seperti di atas. Sehingga untuk sisa kunnjungan kami minggu ini, kami akan banyak berdiskusi dengan perencana kota dan mendokumentasikan inisiatif pembangunan di kota ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *