Esai dari Emily Lesk, Havard University

Sebelum bergabung dengan Solo Kota Kita, saya memaknai kekuatan data sebagaimana adanya. Saya mensintesakan dan menganalisa data demografis dalam pekerjaaan saya di sebuah konsultan tata ruang swasta, dimana kami mengasumsikan bahwa data kuantitatif diperlukan untuk menyelesaikan masalah di wilayah tententu. Data angka tentunya diambil dari lapangan, namun antara sensus, rekam publik dan data yang dikumpulkan dan dijual secara privat, kami tidak pernah menyikapi secara kritis kontek dibalik tersedianya data tersebut.

Di Solo, saya membuktikan sebaliknya. Tanpa fakta tentang karakteristik dan kebutuhan lokal yang dikumpulkan secara sistematis – dan di mana karakteristik dan kebutuhan tadi berada – program pemerintah dan LSM tidak mampu membantu secara efektif seperti yang mereka harapkan. Namun di dalam dunia konsultan di mana saya bekerja sebelumnya, tidak tersedianya data yang bagus membuat klien kami tidak mampu memaksimalkan keuntungan (revenue), di Solo, dampaknya mungkin akan lebih fundamental. Warga kelurahan mungkin saja akan tetap meminum air yang terpolusi meskipun ada dana untuk membuat sumur yang lebih baik, atau rumah yang saling berhimpit akan tetap begitu selamanya.

Dengan kata lain, saya menjadi lebih peduli betapa pentingnya data yang bagus itu untuk membuat perubahan berarti. Pengalaman ini juga mengarahkan studi saya sekarang ini untuk mendalami kelas tentang kewirausahaan di negara berkembang di MIT Media Lab. Dalam kelas saya terdapat mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, serta professor yang tertarik pada masalah pengumpulan data dan representasi spasial yang terkait dengan berbagai masalah pembangunan. Saya berharap apa yang saya pelajari di Solo Kota Kita dapat membantu saya, dan tentunya saya akan berbagi pengalaman dari kelas ini dengan tim Solo nantinya.