Esai oleh Emily Schlickman, Harvard University

Ketika kami berkeliling Solo dengan sepeda motor, melalui jalan berdebu dan gang yang sempit, itulah kesan pertama ketika berkunjung ke masyarakat di Solo bagian timur.

Terletak antara tanggul di bagian utara dan sungai besar di bagian selatan, kelurahan itu nampak secara fisik dan social terisolasi. Seperti bingung bagaimana kami sampai ke sini, saya mendekat pada Bima dan Dina, dua relawan mahasiswa di Solo Kota Kita, bertanya arah pada mereka berdua. Tanpa ragu mereka memandu saya.

Sambil terus memandu jalan melewati kampung, dan berhenti sejenak berbincang dengan warga tentang kondisi kelurahan mereka, saya terkesan dengan semangat para mahasiswa ini dalam memahami kehidupan kota dan dengan kemampuan mereka yang kuat dalam berinteraksi dengan warga. Pendekatan dan pengetahuan mereka yang luas member saya pemahaman yang tak terkira yang bisa membantu saya dalam kerja lapangan dan analisa di masa mendatang.

Selama enam minggu berikutnya, saya menghabiskan banyak waktu dengan para mahasiswa. Kami saling berbagi pengetahuan tentang alat-alat analisa dan grafis, berdiskusi tentang kesamaan dan perbedaan antara “landscape” di Indonesia dan di Amerika, dan kami melakukan banyak perjalanan keliling kota dengan sepeda dan menikmati berbagai menu makanan di tengah malam.

Pertukaran budaya ini member pengaruh besar dalam pengalaman akademik saya terutama dalam hal partisipasi masyarakat. Dengan bantuan relawan mahasiswa dan fasilitator lokal, kami memperoleh pandangan tentang masa depan warga langsung dari penduduk kelurahan.