Kantor Solo Kota Kita di Jajar: Anti-tesis Ruang Kecil Perkotaan

Oleh Olivia Stinson

Olivia adalah seorang Urban Planner yang tinggal di Jakarta, yang berasal dari New York dan New Orleans. Dia datang ke Solo beberapa bulan yang lalu untuk menjadi relawan di Solo Kota Kita dan membantu menyusun Mini Atlas kelurahan

Setelah beberapa bulan di Jakarta, merupakan tantangan tersendiri bagi saya bekerja bersama dengan Solo Kota Kita (SKK) selama seminggu lamanya di kantor mereka di Jajar. I love Solo. Sangat tenang, sunyi, dan ramah dibandingkan dengan Jakarta. Solo berbisik lembut di telinga, sedangkan Jakarta berteriak di Blackberry anda.

Kantor SKK terletak di tengah pemukiman yang selalu menyembulkan nuansa dan irama tersendiri. Berada di Jajar, anda seperti terbuai untuk pelan berjalan dan menikmati sekeliling. Setelah itu, semakin banyak anda mengenal aktivitas dan hubungan sehari-hari di sana, maka anda semakin tidak sadar telah menikmati jalan, kantor dan kota kecil yang indah.

Kantor SKK merupakan rumah tua, dan kami selalu membiarkan pintu dan jendela terbuka setiap waktu. Kami semua berangkat ke kantor cukup pagi, sekitar pukul 08.00, atau sebelum itu, dan kehidupan di Jajar sudah mulai bergeliat. Ada pengamen datang di pagi itu, kemudian pedagang keliling menjajakan makanan ringan dan sate, kemudian mobil, dan orang-orang mulai bekerja, terus menerus silih berganti. Bising, orang-orang bekerja, suara ayam, anak-anak dan riuh para Ibu terdengar dari jendela kami yang terbuka.

Tidak pernah membosankan ada di sini. Ini merupakan anti-tesis dari sebuah ruang kecil perkotaan. Kami benar-benar menyatu dengan tempat ini, yang sangat sederhana namun saling terhubung dan bekerja bersama untuk Kota Solo.

Saya selalu menyukai saat makan siang. Jika anda pernah mengunjungi Indonesia, ini lah tempat nya makanan dan camilan terhebat di planet. Kita biasanya makan bersama di warung dekat kantor. Terdapat tempat makan prasmanan yang terbuka dan menyediakan masakan rumahan dengan mangkuk keramik besar dan tentunya makanan yang banyak pula.

Kepala ayam goreng? Ya. Sayuran hijau aneh dengan kelapa parut dan cabai? Ibu saya pasti suka. Tempe, tahu, ikan-ikan kecil yang digoreng dengan lumuran tepung (rempeyek). Coba dulu! Saus kari aneh dengan daging yang tak tahu dari mana asalnya? Mari pergi saja. Jangan lupa sambal pedasnya. Isi mangkuk anda, coba sesuatu yang baru, pesan aja es teh segelas penuh, dan keluyuran di jalan mencari segelas kopi – “Hello Mister”

Kami biasanya bekerja cukup hening di siang hari, dengan beberapa orang sibuk melakukan diskusi pin-up di salah satu ruang. Mahasiswa-mahasiswa arsitektur muda, seorang planner berpengalaman dari Solo, fotografer pemula, beberapa mahasiswa magang dari Harvard, dua orang kharismatik dan idealis, dan satu lagi, tentunya saya. Obrolan soal perencanaan dan kolaborasi silih berganti dari sebuah ruang berdinding biru berlantai tegel. Dengan perlahan mesin perencanaan masyarakat seperti bergerak kedepan, anda bisa merasakan energinya dalam tempo yang tepat, di tambah dengan suasana kuno khas Solo, sungguh momen yang tepat.

Sebagaimana jamaknya di Indonesia, pukul 6 sore sudah menjelang gelap. Ketika lampu di luar menyala redup dan berkedip, lampu neon yang nampak malas menerangi sudut toko dan rumah di depan kantor, kami bekerja “up and down” tergantung deadline. Ketika laptop kami kemudian berkedip bersamaan hadirnya senja, obrolan antara kami berubah menjadi “apa makan malam kita kali ini”.

Satu Respon untuk Kantor Solo Kota Kita di Jajar: Anti-tesis Ruang Kecil Perkotaan

  1. EdyPurnomo.net berkata:

    Solo memang bikin kangen…
    Pernah juga bermimpi suatu saat nanti pulang dan menetap juga bekerja di tanah kelahiran saya itu..

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *