Mungkin Solo bisa meniru??…

Oleh Michael Haggerty

Sebulan yang lalu, saya mempresentasikan Solo Kota Kita di depan konferensi sehari yang di sponsori oleh Architecture for Humanity di New York City.

Siapapun bisa berbagi informasi tentang proyek mereka selama seminar yang disebut sebagai “Design Open Mic.”. Setiap proyek memiliki gagasan dan strategi tersendiri dalam mencapai tujuan – bagi saya, ada beberapa proyek yang mungkin “sesuai / cocok dengan Kota Solo”

Salah satu proyek yang menarik adalah “micro-library”atau “perpustakaan mikro”. Proyek ini di desain oleh seorang arsitek yang bernama Heba ElGawish diperuntukkan bagi anak-anak yang tinggal di pemukiman pinggir kota di Italia yang harus pindah setelah gempa tahun 2009. Idenya sangat sederhana, yaitu perpustakaan keliling yang di kemas dengan rak-rak buku dan tempat duduk bagi delapan anak. Terbuat dari triplek, papan dan palet daur ulang, perpustakaan keliling tersebut dapat dengan mudah dilipat dan dipajang dalam ruangan.

Usai jam sekolah di Solo, selalu banyak murid lalu lalang di Kota Solo. Mereka menghabiskan siang hari bersama teman di jalan-jalan _yang merupakan ruang publik terpenting di Kota solo_ sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing. Mungkin saja, perpustakaan mikro semisal ini di Solo bisa memberi warna baru dalam aktivitas keseharian para murid usai pulang sekolah?

Proyek lain yang juga bisa memberi sumbangan ide bagi Kota Solo adalah kompetisi pembuatan desain gerobak makanan bagi PKL oleh Architecture for Humanity di New York.

Selama bertahun-tahun, kelompok imigran dari Amerika Tengah selalu membuat tenda-tenda penjual makanan berdampingan langsung dengan lapangan “football” di setiap hari Sabtu. Baru-baru ini, Dinas Kesehatan Kota New York mewajibkan PKL membeli truk makanan yang harganya mahal agar memenuhi standar kebersihan kota. Namun ketika PKL memakai truk, maka pasar menjadi sepi dan kehilangan warna dan gairah. Kemudian, Architecture for Humanity meminta para desainer untuk mengembangkan ide bagaimana PKL tetap bisa memenuhi standar kebersihan, namun tetap bisa dekat dengan lapangan dan para pembeli.

Sebagai hasil dari kompetisi, beberapa ide telah direalisasikan oleh Dinas Pertamanan. Salah satunya adalah pembuatan kedai yang terbuat dari peti kemas. Upaya lain adalah dengan menyediakan area teduh dekat dengan truk dan PKL. Proyek ini menggunakan bahan yang murah namun cerah dan fleksibel sehingga menciptakan identitas yang menarik bagai pasar itu sendiri.

Solo sendiri sudah mempunyai pasar malam “Ngarsopuro” ataupun “Galabo”, namun masih banyak PKL lain di penjuru kota. Mungkin ide ini bisa menginspirasi cara baru menyediakan ruang dimana PKL bisa terkonsentrasi dan dimana para pembeli bisa santai sambil duduk menikmati makanan?

Satu Respon untuk Mungkin Solo bisa meniru??…

  1. farikha berkata:

    baguuus… saya suka ide desainnya,tapi untuk penerapan model sperti itu di Solo harus dikaji tentang perletakan micro library di titik baca yang pas..
    semoga bisa terwujud.. amin.. =)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *