Pekalongan Lautan Warna

Oleh John Taylor

Pekalongan merupakan kota lautan warna, kain warna-warni berjajar dikeringkan di bawah sinar matahari; kuning, ungu, merah, oranye dan biru. Bangunan juga dicat dengan warna terang, bahkan gerbang pun mempunyai warna yang mencolok. Sepertinya kombinasi antara budaya pesisir, warga yang berjiwa seni dan juga motif batik yang berani membuat Kota Pekalongan tergolong kota yang mempunyai kebanggaan atas warna-warna yang berani atau mencolok. Seperti yang kami alami ketika Tim Solo Kota Kita berkunjung ke Pekalongan, kota ini benar-benar merupakan kota lautan warna.

Tim Solo Kota Kita berada di Pekalongan selama sepekan untuk melakukan survey dan juga mengumpulkan informasi tentang proyek-proyek pembangungan di Kota Pekalongan. Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja CDS bersama dengan UN Habitat. Kami akan menyiapkan profil kota ini bersama dengan dua kota lain yaitu Banjarmasin dan Surakarta.

Selama di Pekalongan kami mengunjungi Kampung Batik, pemukiman di sepanjang pantai, pelabuhan tua dan juga pemukiman kelompok menengah. Hal ini dimaksudkan untuk memahami bentuk kota dan juga potensi pembangunan kota ke depan.

Pekalongan punya aset yang kuat untuk berkembang, namun juga menghadapi banyak tantangan ke depan. Kota ini terkenal dengan Kota Batik, ratusan produsen batik skala kecil mampu memproduksi batik dalam skala besar. Buktinya dapat dilihat di seluruh penjuru kota, pembuatan dan pengeringan batik di mana-mana! Kota Pekalongan mendukung perkembangan batik dengan mendorong inovasi desain dan pemasaran seperti membangun museum batik, pelatihan, dan laboratorium pengembangan batik. Kota ini juga mempromosikan batik sebagai aset wisata budaya seperti terlihat di Kauman, tepat di jantung kota ini.

Di sisi lain, tantangan perubahan iklim dan problem degradasi lingkungan seperti rob membuat kita ini menghadapi tantangan yang sulit. Setiap hari di belahan utara kota, air pasang membuat sungai-sungai tidak mengalir. Hal ini menyebabkan air tumbah ke pemukiman, seperti yang terjadi di Pabean. Air pasang yang tinggi juga membanjiri daerah pantai pesisir dan air asin merusak pertanian padi di sekitarnya. Hal ini juga menyebabkan menurunnya jumlah produksi batik, karena berkurangnya tempat menjemur akibat banjir rob. Pemerintah kota sedang mengupayakan berbagai proyek seperti tembok penghalang rob, restorasi kawasan mangrove, dan juga memperbaiki system drainase untuk mengurangi resiko luapan air pasang.

Kota dengan warna mencolok ini memproduksi limbah batik yang mengalir ke sungai yang membuat aliran sungai menjadi pekat dengan tingkat polusi tinggi. Warna dan kondisi sungai bisa menjadi indicator menarik untuk mengukur keberhasilan kota ini. Dapatkah Pekalongan ke depan menyeimbangkan pembangunan industri batik dengan keberlangsungan lingkungan dan kesehatan masyarakat? Dapatkah upaya melindungi kawasan pantai dan memperbaiki sistem aliran sungai secara bersamaan memberi manfaat bagi perkembangan usaha lokal? Jika ya, maka sungai di Pekalongan suatu saat akan mengalir bersih, yang merefleksikan warna cerah atas keberhasilan Kota Pekalongan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *