Rencana Aksi Komunitas di… Mongolia!!!

Oleh Michael Haggerty

Baru – baru ini John dan Michael mengunjungi Ibu Kota Mongolia, Ulaanbaator, untuk menfasilitasi workshop rencana aksi komunitas dengan penduduk di beberapa daerah / distrik ger.

Dalam satu dekade terakhir, sepuluh ribu orang bermigrasi ke kota Ulaanbaator dan bermukim di sepanjang bukit di pinggiran kota. Para kelompok pendatang ini tinggal di tenda tradisional – dikenal dengan nama ger – yang selama berabad-abad menjadi rumah bangsa Mongolia. Lebih dari 60% warga kota tinggal di distrik-distrik ger ini.

Banyak kelompok miskin yang membutuhkan layanan publik tinggal di sepanjang jalur perbukitan ini. Mereka sangat rentan terhadap bencana banjir selama musim hujan. Mereka juga sering kehilangan harta benda karena banjir. Daerah-daerah ger ini juga kekurangan layanan dasar dan infrastruktur, sehingga UN Habitat bekerja sama dengan penduduk lokal selama tujuh tahun terakhir mengembangkan model Community Development Council (CDC). Tujuannya adalah untuk membangun secara bersama-sama lingkungan mereka.

Workshop yang kami laksanakan melibatkan 7 CDC – yang mewakili 2500 KK – untuk mencari solusi terkait upaya mengurangi resiko bencana.

Ketika kami mengunjungi Unur, kami melihat bahwa perubahan lanskap akibat ulah manusia telah menyebabkan banjir semakin buruk efeknya. Sebagai contoh, beberapa orang memotong daerah perbukitan dan membuatnya datar agar bisa didirikan ger dan membuang tanah ke bagian lembah. Proses ini terus belangsung di Unur dan membuat perubahan cepat pada lanskap yang menyebabkan banjir di lokasi tersebut.

Tidak ada hasil workshop yang memberi solusi skala besar, namun CDC justru mendiskusikan intervensi skala kecil dengan menggunakan sumberdaya lokal untuk secara gradual mengurangi resiko bencana. Salah satu contoh solusi adalah dengan menggali parit-parit untuk mengendalikan air agar tidak langsung mengalir ke lembah. Cara ini menggantikan peran resapan atau penampungan air yang dulunya mampu dilakukan oleh pepohonan di atas bukit sebelum hilang akibat pembangunan.

Tim kami bekerja sama dengan ahli air dari Arcadis, sebuah perusahaan pertukangan berbasis di Amsterdam yang membantu UN Habitat melalui program bernama ARCShelter. Buku tentang proses penyusunan Rencana Aksi Komunitas di Mongolia tersebut dapat anda downlowd di website ini: Unur Area CAP – Hi Res, Unur Area CAP – Lo Res. Maaf, belum tersedia dalam versi Bahasa.

Lalu bagaimana kaitannya dengan Indonesia atau Solo khususnya?

Seperti halnya di Unur, banyak kelurahan di Solo cukup rentan banjir. Prosesa penyusunan Rencana Aksi Komunitas merupakan alat partisipasi yang cukup jamak dilakukan. Secara khusus, cara ini juga pernah diterapkan di Aceh pasca Tsunami 2004 dan di gempa Yogyakarta tahun 2006. Kami berharap, poyek ini mampu memberi pengalaman bagaimana penduduk dan pemerintah Kota Solo mencari solusi terhadap persoalan banjir di Kota Solo.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *