Esai dari Farikha Amalia, Universitas Sebelas Maret

Banyak mahasiswa arsitektur dan perencanaan kota yang bergabung dalam kegiatan awal ini. Tak terasa kami sudah “ berbanyak ”, membentuk kelompok-kelompok kecil bersama teman lintas angkatan dan lintas jurusan. Tak hanya itu, kami diperkenalkan pula dengan teman-teman istimewa dari berbagai latar belakang, dari mahasiswa sampai aktivis dan masyarakat pun ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan ini. Dengan niat mulia. memberi sumbangsih kecil bagi perbaikan Kota ini. Kami memulai “petualangan”.

Seperti anak kecil yang sedang belajar berenang, takut tenggelam. Terbesit pemikiran seperti itu, ketika saya ingin menambah kegiatan dalam jadwal saya. Takut tidak bisa fokus, tidak bisa membagi waktu, takut bertemu orang-orang baru . Tapi, karenakegiatan ini adalah sesuatu yang baru bagi saya, saya akhirnya memutuskan untuk menjalaninya sebaik mungkin yang saya bisa jalani. Saya menambah aktivitas baru, Saya menambah ilmu yang baru, Saya bertemu banyak orang-orang baru pula, bertemu dengan pemikir-pemikir yang kritis, saya seperti mendapat pencerahan perspektif sebagai mahasiswa. Lagi, banyak sekali hal yang saya tidak tahu, kemudian saya bertemu dengan berbagai macam personal baik di dalam maupun dari luar negeri. Menyenangkan mengenal mereka. Sangat. Saya banyak belajar dari mereka sampai sekarang.

Seperti anak kecil yang sedang belajar berenang, “Gelagepan”. Itulah yang saya rasakan saat pertama kali mengikuti kegiatan macam ini. Terang saja, saya harus dibiasakan untuk mewawancarai seseorang, melihat lingkungan sekitar dengan lebih seksama dan komprehensif ,hal yang jarang sekali saya lakukan. Selain itu, saya harus dengan sabar mengorek informasi dari para penduduk dan para ketua RT guna melengkapi data kami. Kami sering bolak-balik menemui Pak RT untuk mendapatkan informasi dari sumber terpercaya.

Ketika anak tersebut sudah bisa berenang, dia akan belajar menyelam. Saya pun, sedang belajar menyelam, menyelami apa yang telah saya dapat, yang bisa saya kontribusikan pada orang lain, yang membuat apa yang saya punya berguna untuk lingkungan. Dan ketika anak itu telah menyelam semakin dalam dia dapat melihat berbagai fenomena, ada terumbu karang yang indah, ikan-ikan yang menari kesana kemari, air yang biru, anemon laut penuh warna. Atau, di suatu waktu dia akan disuguhkan pada ekosistem laut yang telah hancur, sisa pukat harimau, dan beberapa jasad hewan laut yang terombang-ambing. Tapi inilah realita kehidupan. Saya senang ikut kegiatan ini. Kegiatan ini memberi manfaat tidak juga untuk saya sendiri, namun juga untuk orang lain.