Kilas Sejarah

Solo Kota Kita telah mengembangkan tools dan media advokasi dan perencanaan masyarakat di Kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah sejak 2009.

Tujuan dari Solo Kota Kita adalah meningkatkan kesadaran public terhadap isu-isu perkotaan, sehingga masyarakat mampu memperkuat dan meningkatkan kualitas aspirasi mereka dalam perencanaan pembangunan atau musrenbang.

Proyek ini diimplementasikan dengan melalui proses pengumpulan data berbasis masyarakat, dan kemudian berbagi informasi tersebut dengan semua pihak termasuk pemerintah Kota Surakarta. Tool partisipatif yang kami kembangkan kami sebut “mini atlas” yang merupakan poster profil kelurahan yang menggambarkan kondisi dinamika kelurahan serta pola problem dan postensi sosial ekonominya.

Inisitaif ini dimulai pada Maret 2009 dalam bentuk pilot project. Didukung oleh mahasiswa arsitektur dan planologi UNS yang melakukan pemetaan bersama masyarakat. Selanjutnya proyek ini mendapat dukungan penuh dari walikota solo saat itu Joko Widodo – sekarang Gubernur Jakarta – untuk melakukan pemetaan di Kota Solo di 51 kelurahan.

Saat ini, Solo Kota Kita telah melakukan survey partisipatif sebanyak dua kali. Survey pertama selesai dilakukan tahun 2010 dan informasi disajikan dalam mini atlas 51 kelurahan. Tahun 2012, Solo Kota Kita melakukan survey ke dua dengan menggunakan teknologi SMS yang memungkinkan warga mengirim data melalui SMS.

Mini Atlas dikenalkan pertama kali dalam musrenbang 2010 dengan dukungan dari Bappeda Kota Surakarta. Mini Atlas tersebut membantu masyarakat berdiskusi di level kelurahan (musrenbangkel), dan masyarakat mengetahui apa yang terjadi di kelurahannya melalui informasi yang disajikan. Dengan membuat keputusan menggunakan informasi yang ada, membuat usulan pembangunan lebih punya basis informasi yang terhubung dengan kebutuhan yang riil masyarakat dan rencana pembangunan oleh pemerintah.

Solo Kota Kita sudah melakukan 5 kali workshop bersama pemerintah, dan melakukan pelatihan bagi 70 fasilitator kelurahan yang membantu masyarakat berdiskusi selama musrenbang. Dan lebih dari 33,000 orang telah mengakses website kami sejak diluncurkan tahun 2010. Sementara itu sekitar 90 % penguna adalah orang masyarakat Indonesia, terdapat juga 122 pengunjung dari berbagai Negara di dunia. Solo Kota Kita juga telah mengembangkan model ini bekerja sama dengan pemerintah kota dan NGO di Makassar, Padang, Pekalongan dan Banjarmasin.

Pendukung dan kontributor pada proyek ini berasal dari berbagai disiplin pengetahuan, namun memiliki perhatian yang sama terhadap pertumbuhan dan pembangunan kota. Desain dan produk yang kami hasilkan dimaksudkan untuk memperbaiki pembangunan di level kelurahan, untuk itu kami sangat fokus terhadap upaya mendorong proses yang mampu menyediakan ruang publik bagi masyarakat – perencanaan dan penganggaran partisipatif. Dengan mendorong musrenbang lebih efektif dan berkualitas, kami berharap akan ada perbaikan secara fisik di Kota Solo.