Metodologi

Solo Kota Kita menggabungkan pendekatan “decentralized survey” dengan teknologi untuk menggambarkan asset dan masalah disetiap kelurahan di Solo. Ada empat langkah yang ditempuh – 1) pengumpulan data, 2) pemetaan, 3) analisa, dan 4) penyebaran informasi.

Pertama, kami mengirim fasilitator untuk mengumpulkan data dari ketua RT di Kota Solo. RT merupakan unit administrative terkecil dalam kelurahan. Biasanya ketua RT mempunyai banyak informasi terkait kependudukan, kesehtan, pendidikan, kemiskinan dan masalah lain di lingkungannya.

Ketika Solo Kota Kita pertama kali menyusun database indikator sosial ekonomi seperti yang terlihat dalam website ini, fasilitator kami mengumpulkan dat primer menggunakan kuisener. Fasilitator yang berjumlah 12 orang bekerja keras di beberapa kelurahan yang menjadi tanggung jawabnya. Ada kurang lebih 2,700 RT di Solo, yang berarti 12 fasilitator tersebut berinteraksi dengan hamper 2,700 orang selama survey berlangung.

Pendekatan survey semacam ini membuat kami mampu mencakup sebanyak mungkin wilayah dan mengumpulkan berbagai informasi langsung dari masyarakat dan mencatat apa saja yang terjadi di lapangan.

Untuk update tahun 2012, Solo Kota Kita mengembangkan cara baru dengan SMA sehingga pengumpulan data bisa dipersingkat. Dengan cara ini, ketua RT tinggal menerima kuisener melalui pesan singkat SMS langsung ke handphone mereka. RT akan mengirim data balik melaui SMS dan ditabulasi secara online.

Metode SMS ini mengurangi jumlah waktu yang dipakai dalam pengumpulan data, namun demikian setiap fasilitator memiliki teknik sendiri dalam mengumpulkannya. Dalam beberapa kasus, fasilitator mengumpulkan ketua RT, lalu melakukan pengiriman SMS secara bersamaan. Yang lain, juga mengumpulkan kuisener secara manual, karena ada RT yang tidak punya handphone atau tidak bisa mengirim SMS.

Setelah survey selesai dilakukan, kami memasukkan data dalam Geographic Information Systems (GIS). GIS merupakan program computer yang bisa mengadopsi data tabular dan menghubungkannya dengan peta. Ini berarti kita mampu memetakan dimana lokasi kemiskinan di Solo yang tinggi, dan dimana yang rendah.

Kami kemudian menganalisis bagaimana setiap kondisi kelurahan dan perkembangannya. Kami menganalisa data dan peta untuk memahami bagaimana kondisi masing-masing lingkungan dibandingkan dengan kondisi kota dan bagaimana setiap indikator terdidtribusikan di kelurahan.

Semua orang punya perspektif yang berbeda – karena fasilitator menghabiskan begitu banyak waktu di lapangan, mereka memahami apa yang warga rasakan, aset dan masalah. Kami mencatat dan memasukkan ide-ide analisis mereka di mini atlas.

Terakhir, kami mendistribusikan atlas mini kepada masyarakat suntuk digunakan dalam penganggaran partisipatif – musarenbang. Mini Atlas dicetak dan dibagikan kepada para ketua RW, juga ditempel di papan pengumuman RW dan kelurahan serta di pusat-pusat berkumpulnya warga. Terakhir, mini atlas dapat di download langsung di www.solokotakita.org.