Sepeda Bagus dan Jalan Bebas Kendaraan

Oleh Michael Haggerty

Kita baru menyadari ternyata banyak sekali sepeda di jalan-jalan Kota Solo.

Mungkin ini musim yang cocok untuk bersepeda_ musim kemarau memang memudahkan orang untuk bersantai di luar rumah. Dan tahun ini, cuaca di Jawa Tengah sangatlah bersahabat. Bahkan mungkin tidak terlalu berdebu seperti biasanya.

Hari ini pula merupakan peringatan setahun “Solo Car Free Day“. Tahun lalu, untuk pertamakalinya pemerintah menutup Jalan Slamet Riyadi yang merupakan koridor ekonomi utama. Setiap Minggu nya jalan ini ditutup dari jam 5.00 pagi hingga 9.00 dan bebas dari kendaraan bermotor. Agenda ini semakin populer dan disukai warga sehingga warga yang tidak punya sepeda sendiri pun, rela hanya sekedar membonceng temannya.

Good Bikes and Free Streets from Michael Haggerty on Vimeo.

Jadi, sangat mungkin Car Free Day telah mendorong banyak orang untuk turut bersepeda dan menggunakan sepeda untuk bekerja, bersekolah dan pergi belanja. Hal ini merupakan pertanda baik_ jika jalan bisa mengakomodir pengguna sepeda, maka di masa mendatang jalan juga bisa nyaman bagi pejlan kaki!

Tinggalkan Komentar

Pekalongan Lautan Warna

Oleh John Taylor

Pekalongan merupakan kota lautan warna, kain warna-warni berjajar dikeringkan di bawah sinar matahari; kuning, ungu, merah, oranye dan biru. Bangunan juga dicat dengan warna terang, bahkan gerbang pun mempunyai warna yang mencolok. Sepertinya kombinasi antara budaya pesisir, warga yang berjiwa seni dan juga motif batik yang berani membuat Kota Pekalongan tergolong kota yang mempunyai kebanggaan atas warna-warna yang berani atau mencolok. Seperti yang kami alami ketika Tim Solo Kota Kita berkunjung ke Pekalongan, kota ini benar-benar merupakan kota lautan warna.

Tim Solo Kota Kita berada di Pekalongan selama sepekan untuk melakukan survey dan juga mengumpulkan informasi tentang proyek-proyek pembangungan di Kota Pekalongan. Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja CDS bersama dengan UN Habitat. Kami akan menyiapkan profil kota ini bersama dengan dua kota lain yaitu Banjarmasin dan Surakarta.

Selama di Pekalongan kami mengunjungi Kampung Batik, pemukiman di sepanjang pantai, pelabuhan tua dan juga pemukiman kelompok menengah. Hal ini dimaksudkan untuk memahami bentuk kota dan juga potensi pembangunan kota ke depan.

Pekalongan punya aset yang kuat untuk berkembang, namun juga menghadapi banyak tantangan ke depan. Kota ini terkenal dengan Kota Batik, ratusan produsen batik skala kecil mampu memproduksi batik dalam skala besar. Buktinya dapat dilihat di seluruh penjuru kota, pembuatan dan pengeringan batik di mana-mana! Kota Pekalongan mendukung perkembangan batik dengan mendorong inovasi desain dan pemasaran seperti membangun museum batik, pelatihan, dan laboratorium pengembangan batik. Kota ini juga mempromosikan batik sebagai aset wisata budaya seperti terlihat di Kauman, tepat di jantung kota ini.

Di sisi lain, tantangan perubahan iklim dan problem degradasi lingkungan seperti rob membuat kita ini menghadapi tantangan yang sulit. Setiap hari di belahan utara kota, air pasang membuat sungai-sungai tidak mengalir. Hal ini menyebabkan air tumbah ke pemukiman, seperti yang terjadi di Pabean. Air pasang yang tinggi juga membanjiri daerah pantai pesisir dan air asin merusak pertanian padi di sekitarnya. Hal ini juga menyebabkan menurunnya jumlah produksi batik, karena berkurangnya tempat menjemur akibat banjir rob. Pemerintah kota sedang mengupayakan berbagai proyek seperti tembok penghalang rob, restorasi kawasan mangrove, dan juga memperbaiki system drainase untuk mengurangi resiko luapan air pasang.

Kota dengan warna mencolok ini memproduksi limbah batik yang mengalir ke sungai yang membuat aliran sungai menjadi pekat dengan tingkat polusi tinggi. Warna dan kondisi sungai bisa menjadi indicator menarik untuk mengukur keberhasilan kota ini. Dapatkah Pekalongan ke depan menyeimbangkan pembangunan industri batik dengan keberlangsungan lingkungan dan kesehatan masyarakat? Dapatkah upaya melindungi kawasan pantai dan memperbaiki sistem aliran sungai secara bersamaan memberi manfaat bagi perkembangan usaha lokal? Jika ya, maka sungai di Pekalongan suatu saat akan mengalir bersih, yang merefleksikan warna cerah atas keberhasilan Kota Pekalongan.

Tinggalkan Komentar

City Development Strategies (CDS): Kunjungan Tim ke Kota Pekalongan

Oleh John Taylor

Ketika matahari tenggelam di Laut Jawa, nelayan masih juga asik memancing diantara jajaran mangrove di pesisir Pekalongan. Tidak jauh dari situ, sepanjang pantai, terjajar tumpukan batu untuk proyek pembangunan . Sementara di sisi lain kota, para pedagang mulai menutup kios mereka di pasar. Mereka akan menggelar lagi dagangan batik mereka esok hari.


Saat ini, tim Solo Kota Kita sedang berada di Pekalongan, kota kecil di pesisir utara Jawa berpenduduk sekitar 200,000 jiwa. Kami berkunjung dalam rangka Program City Development Strategy; Making Urban Investment Work bersama UN Habitat Indonesia. Kami akan berkunjung ke berbagai lokasi dan rencana proyek pemerintah.

Salah satu tujuan dari CDS adalah membuat profil kota – kota CDS yaitu Pekalongan, Solo dan Banjarmasin. Profile ini akan menggambarkan dan mengkomunikasikan visi strategis kota dan pemangku kepentingan yang terkait, serta memberikan analisa terkait isu perkotaan sebagai dasar pemahaman bagi masyarakat terkait proyek yang akan di rencanakan kota. Tim CDS juga akan memfasilitasi Workshop Partisipatif dengan masyarakat untuk menjelaskan tentang proyek yang sedang direncanakan pemerintah. Hal ini dilakukan dalam rangka memdorong munculnya dukungan yang kuat terhadap proyek strategis kota.

Berbagai kegiatan diatas adalah bagian dari kerja advokasi yang dilakukan UN- Habitat dan Solo Kota Kita dalam membantu kota-kota di Indonesia mendapat akses pendanaan untuk mensukseskan rencana investasi mereka. Dengan membantu kota mendemonstrasikan rencana strategis dan initiatif investasi publik (seperti terminal bus dan perbaikan pasar), akan memudahkan pemerintah pusat mengalokasikan pendanaan ke lokal.

Suasana sore dan suasana pasar batik merupakan gambaran tentang Pekalongan, kami memotret tantangan dan kemana arah pembangunan kota Pekalongan. Saat ini Kota Pekalongan menghadapi masalah terkait rob atau banjir luapan air laut. Pemerintah sedang mengembangkan tembok penghalang ombak untuk melindungi kota dari abrasi dan rob. Di sisi ekonomi, pemerintah sedang mendorong batik menjadi penggerak ekonomi utama. Batik merupakan warisan budaya Pekalongan. Sehingga industri ini memainkan peran penting dalam menciptakan lapangan pekerjaan dan income bagi masyarakat ke depan.

Kami berharap dengan mengunjungi Pekalongan dapat mengerti bagaimana kehidupan kota ini, dan memahami proyek-proyek strategis kota ini dimasa mendatang. Kami akan membantu mengkomunikasikan apa yang kami pelajari disini melalui profil CDS Kota Pekalongan.

2 Komentar

Klothok, Rumah, Toilet dan Sampah di Banjarmasin

Oleh Michael Haggerty

Minggu ini tim Solo Kota Kita berkunjung ke Banjarmasin – ibukota Kalimantan Selatan. “Kota Seribu Sungai” ini selama beberapa decade tealah menjadi pusat transportasi regional untuk pengangkutan batubara, kayu, dan karet yang banyak terdapat di Pulau Kalimantan. Namun sumberdaya itu kian menipis dan pemerintah mulai berfikir untuk membangun kota dengan kekuatan perdagangan dan jasa.

Kami berada disini karena Banjarmasin menjadi salah satu kota dari program CDS UN Habitat_yang lainnya adalah Solo dan Pekalongan. Selama beberapa hari ini kami telah bertemu dengan BAPPEDA dan mencoba belajar tentang visi kota ini. Meskipun hari ini merupakan hari libur nasional, beberapa staf pemerintah termasuk kepala Bappeda mengantar kami berkunjung ke beberapa proyek strategis kota.

Proyek pertama yang kami kunjungi adalah fasilitas IPAL – Instalasi Pengelolaan Air Limbah –, Kota Banjarmasin berencana membangun 14 IPAL untuk mengelola limbah cair. Karena banyak wilayah di Banjarmasin tidak mempunyai saluran sanitasi, maka pemerintah memfasilitasi pembuatan septic tank di rumah-rumah untuk selanjutnya bisa dikumpulkan oleh pengelola IPAL secara regular. IPAL akan memproses limbah sehingga layak dibuang ke sungai atau dipakai untuk keperluan kolam ikan – aqua culture. Satu instalasi IPAL bisa melayani satu komplek pemukiman.

Proyek selanjutnya adalah rumah susun sewa (RUSUNAWA). Sekitar 1000 orang akan tinggal di rusun lima lantai ini yang merupakan bangunan perumahan tertinggi di Kota Banjarmasin. Aktivitas ekonomi tidak diperkenankan di pemukiman ini, namun nampak sekali banyak jemuran berjejer di beranda memenuhi wajah rusun.

Kami juga berkunjung ke Pembuangan Sampah Akhir (TPA) yang sudah beroperasi sejak tahun 1999, dan akan beralih fungsi menjadi TPA sementara setelah terbangunnya TPA regional. Banyak terdapat pemungut sampah mencapai sekitar 200 orang tiap hari. Tak jauh dari lokasi terdapat lokasi pengelolaan sampah organik menjadi kompos. Sampah organic dari pasar dibawa ke sini untuk dibuat kompos dan dipakai sebagai penyubur di lahan-lahan taman kota. Banjarmasin sendiri diproyeksikan akan mengalami peningkatan populasi dari 700.000 mencapai 1,400,000 pada 25 tahun ke depan. Sehingga kapasitas pengelolaan sampah akan meningkat. Kampanye pada penduduk untuk mengelola sampak dan mengurangi limbah keluarga sedang digalakkan.

Pemberhentian kami terakhir ada di pelabuhan baru yang dibangun di seberang selatan komplek perdagangan bersejarah. Dermaga kapal dibangun untuk menyediakan fasilitas yang lebih baik bagi kapal pengangkut kebutuhan sehari-hari kota. Banjarmasin juga memiliki pelabuhan besar, yang melayani bongkar muat peti kemas untuk perdagangan skala regional, nasional dan internasional. Namun dermaga kelas menengah yang baru ini belum berfungsi maksimal, nampak sempi dan infrastruktur belum sepenuhnya lengkap. Mungkin karena kami berkunjung siang hari, sedang aktivitas berlangsung di pagi hari.

Kota Banjarmasin sedang mengembangkan banyak ide untuk merespon perkembangan kebutuhan perumahan, infrastruktur dan sanitasi. Tujuan proyek kami dengan UN Habitat adalah untuk membuat jaringan atau penghubung antara kota seperti Banjarmasin dengan pemerintah pusat dalam upaya mencari dukungan terhadap investasi perkotaan seperti di atas. Sehingga untuk sisa kunnjungan kami minggu ini, kami akan banyak berdiskusi dengan perencana kota dan mendokumentasikan inisiatif pembangunan di kota ini.

Tinggalkan Komentar

Melihat Studio Teman-teman UNS…

Oleh Michael Haggerty

Pagi tadi, Tim Solo Kota Kita berkunjung ke Universitas Sebelas Maret. Kami selalu menikmati kunjungan ke UNS karena banyak mahasiswa arsitektur dan perencana kota yang menjadi volunteer di SKK. Stephen dan Alice berbagi pengalaman studio mereka di MIT dan terjadi pula diskusi yang menarik seputar tantangan dan politik menjadi seorang desainer dan perencana di Kota Solo.

Dan apa yang ada di benak para mahasiswa? Beberapa topik yang muncul adalah: sungai, ruang publik dan kenapa ruang publik tidak pernah dimanfaatkan, bagaimana dan kapan mendengar suara publik dalam proses desain, peran arsitek dalam memediasi konflik kepentingan misalkan antara pemerintah dan masyarakat..

Diskusi yang menarik! Terima kasih Bima Pratama yang telah mengorganisir diskusinya!

Tinggalkan Komentar

Apa itu “Eco-Cultural City?” Tanya Seorang Mahasiswa Desain…

Oleh Michael Haggerty

Selamat buat Sella Chintia Devi – volunteer Solo Kota Kita 2009-2010 – yang tim nya memenangkan lomba desain tata ruang kelurahan “Solo Eco-Cultural City.” Sella bekerja dengan teman-teman mahasiswa dari Universitas Sebelas Maret dan masyarakat Jagalan membuat dan menyusun gagasan tentang memperbaiki kualitas ruang publik di sepanjang bantaran kali.

Kompetisi ini di sponsori oleh Dinas Tata Ruang Kota (DTRK) dengan mempertemukan masyarakat kelurahan dengan mahasiswa arsitektur dan perencanaan kota dalam satu tim. Dua puluh dua kelurahan berhasil menyelesaikan dan memasukkan desain dan pemenang akan mendapatkan pembiayaan proyek untuk tahun depan.

Kami sangat mendukung munculnya spirit yang baik dari kompetisi ini – dimana mampu mendorong munculnya pengalaman penting bagi para desainer dan perencana muda di tengah masyarakat, dan juga menciptakan budaya keberlanjutan dan “handarbeni” ditengah masyarakat Solo yang sedang memulai “eco-cultural.”

2 Komentar

Rencana Aksi Komunitas di… Mongolia!!!

Oleh Michael Haggerty

Baru – baru ini John dan Michael mengunjungi Ibu Kota Mongolia, Ulaanbaator, untuk menfasilitasi workshop rencana aksi komunitas dengan penduduk di beberapa daerah / distrik ger.

Dalam satu dekade terakhir, sepuluh ribu orang bermigrasi ke kota Ulaanbaator dan bermukim di sepanjang bukit di pinggiran kota. Para kelompok pendatang ini tinggal di tenda tradisional – dikenal dengan nama ger – yang selama berabad-abad menjadi rumah bangsa Mongolia. Lebih dari 60% warga kota tinggal di distrik-distrik ger ini.

Banyak kelompok miskin yang membutuhkan layanan publik tinggal di sepanjang jalur perbukitan ini. Mereka sangat rentan terhadap bencana banjir selama musim hujan. Mereka juga sering kehilangan harta benda karena banjir. Daerah-daerah ger ini juga kekurangan layanan dasar dan infrastruktur, sehingga UN Habitat bekerja sama dengan penduduk lokal selama tujuh tahun terakhir mengembangkan model Community Development Council (CDC). Tujuannya adalah untuk membangun secara bersama-sama lingkungan mereka.

Workshop yang kami laksanakan melibatkan 7 CDC – yang mewakili 2500 KK – untuk mencari solusi terkait upaya mengurangi resiko bencana.

Ketika kami mengunjungi Unur, kami melihat bahwa perubahan lanskap akibat ulah manusia telah menyebabkan banjir semakin buruk efeknya. Sebagai contoh, beberapa orang memotong daerah perbukitan dan membuatnya datar agar bisa didirikan ger dan membuang tanah ke bagian lembah. Proses ini terus belangsung di Unur dan membuat perubahan cepat pada lanskap yang menyebabkan banjir di lokasi tersebut.

Tidak ada hasil workshop yang memberi solusi skala besar, namun CDC justru mendiskusikan intervensi skala kecil dengan menggunakan sumberdaya lokal untuk secara gradual mengurangi resiko bencana. Salah satu contoh solusi adalah dengan menggali parit-parit untuk mengendalikan air agar tidak langsung mengalir ke lembah. Cara ini menggantikan peran resapan atau penampungan air yang dulunya mampu dilakukan oleh pepohonan di atas bukit sebelum hilang akibat pembangunan.

Tim kami bekerja sama dengan ahli air dari Arcadis, sebuah perusahaan pertukangan berbasis di Amsterdam yang membantu UN Habitat melalui program bernama ARCShelter. Buku tentang proses penyusunan Rencana Aksi Komunitas di Mongolia tersebut dapat anda downlowd di website ini: Unur Area CAP – Hi Res, Unur Area CAP – Lo Res. Maaf, belum tersedia dalam versi Bahasa.

Lalu bagaimana kaitannya dengan Indonesia atau Solo khususnya?

Seperti halnya di Unur, banyak kelurahan di Solo cukup rentan banjir. Prosesa penyusunan Rencana Aksi Komunitas merupakan alat partisipasi yang cukup jamak dilakukan. Secara khusus, cara ini juga pernah diterapkan di Aceh pasca Tsunami 2004 dan di gempa Yogyakarta tahun 2006. Kami berharap, poyek ini mampu memberi pengalaman bagaimana penduduk dan pemerintah Kota Solo mencari solusi terhadap persoalan banjir di Kota Solo.

Tinggalkan Komentar

Mini Atlas dan Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kelurahan

Oleh Ahmad Rifai

Pada awal Agustus 2010, saya diundang pada pertemuan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kota Solo tentang upaya penanggulangan kemiskinan kota. Tim ini terbentuk atas mandat Permendagri No.42 Tahun 2010 tentang koordinasi penanggulangan kemiskinan daerah. Untuk saat ini, tim Kota Solo terdiri dari 4 kelompok kerja: (1) Riset dan data Informasi, (2) program penanggulangan kemiskinan berbasis masyarakat, (3) program penguatan ekonomi kecil dan mikro, dan (4) program bantuan social berbasis rumah tangga.

TKPKD mempunyai mandate utama mewujudkan strategi local penanggulangan kemiskinan kota dan sinergi antar program. Pada saat bersamaan TKPKD juga harus menyiapkan upaya membangun perencanaan jangka menengah tingkat kelurahan (RPJMKel).

Tiga minggu kemudian, saya hadir dalam pertemuan di TKPKD tentang rencana menyusun pilot RPJMKel di Sudiroprajan. Langkah ini dilakukan untuk mencari metode yang tepat dalam mewujudkan RPJMKel di tiap kelurahan di Kota Solo.

Dalam pandangan saya, Mini Atlas yang dikembangkan Solo Kota Kita dapat menjadi alat yang efektif dalam mendampingi diskusi di level kelurahan, terutama dalam mengidentifikasi masalah, aset dan jenis intervensi di kelurahan.

Ketika di implementasikan di Sudiroprajan, saya terkejut karena mampu melihat dengan jernih permasalahan di sekitar mereka jika ada informasi yang ditampilkan untuk membantu diskusi. Sebagai contoh, di RW 4, warga antusias melihat peta dan statistik. Melihat statistic tingginya anak putus sekolah di RW empat, warga melihat pentingnya membangun perpustakaan di komunitas agar ada ruang belajar bagi anak-anak mereka.

Meskipun musrenbang belum bergulir, namun kami yakin Mini Atlas akan bisa membantu diskusi musrenbang melihat dinamika yang terjadi di Sudiroprajan. Saya melihat, pilot di Sudiroprajan menunjukkan bahwa informasi dapat membantu identifikasi masalah di RW, terutama melihat Sudiroprajan yang merupakan kelurahan termiskin di Kota Solo.

Pilot ini akan menjadi basis pengambangan metode RPJMKel di keluraha lain di Kota Solo. Banyak stakeholder kota yang merasa optimis RPJMKel akan bisa medorong agregasi pembangunan kota. PNPM dapat terbantu dalam mensingkronkan program mereka dengan perencanaan kelurahan, pemerintah kota dapat lebih mengembangkan prioritas pembangunan kota, dan NGO juga dapat mengadaptasi perencanaan kelurahan dalam intervensi mereka.

Solo Kota Kita tentunya akan terus berperan dalam menyediakan tool dan membangun proses perencanaan. Informasi petadan statistic dapat manjadi instrumen utama dalam membantu proses bermusyawarah / perencanaan.

4 Komentar

Mini Atlas – Sebuah Pengantar Singkat

Oleh Michael Haggerty

Musrenbang akhirnya datang – selama beberapa minggu kedepan di Solo, Musrenbang akan berlangsung di tiap kelurahan dimana masyarakat berproses dalam penganggaran partisipatif dan mengusulkan gagasan-gagasan dalam upaya membangun Kota Solo.

Jangan heran, ketika anda melihat di pojok-pojok kelurahan Mini Atlas terpampang di 51 kelurahan di Kota Solo. Kami telah mendistribusikan Mini Atlas ke seluruh kelurahan dan dipasang di berbagai lokasi seperti Balai kelurahan, dan papan Koran di kelurahan – dan tentunya anda bisa melihatnya pula di website www.solokotakita.org.

Berikut adalah hasil jepretan kamera Ian Pratomo di Mojosongo, Tipes dan Baluwarti.

Tinggalkan Komentar

Liputan Media tentang Solo Kota Kita

Oleh Michael Haggerty

Terimakasih buat teman-teman jurnalis di Amerika Serikat, kami memperoleh banyak masukan tentang Solo Kota Kita sekaligus perspektif baru dalam proses penganggaran partisipatif.

Theo Schell-Lambert dari GOOD Magazine menggambarkan bagaimana kami bekerja dengan memanfaatkan system RT di Kota Solo, dengan mengatakan “alat yang patut dicontoh terkait pengumpulan informasi dan perencanaan kota.”

Baca artikel lengkapnya:

Dan Jonathan Schultz dari Design Observer menyatakan “cara dan design yang unik dalam mengajak masyarakat berpartisipasi, yang menghasilkan kajian tajam untuk usulan pembangunan dan budget 2011, juga tampilan profile masyarakat dengan desain grafis yang kaya.”

Baca artikel selengkapnya:

Sekarang, bagaimana pendapat anda!

Tinggalkan Komentar